Kamis, 11 November 2010

Memoar Diri Antara Jurang dan Jalan

Oleh: Kemala Pratiwi


katanya hari ini berbintik, rapuh, yang dulu coklat lalu menghitam. Dan katanya besok bergaris, kukuh, yang kemarin bintik kini memanjang. Lalu, katanya lusa melingkar, liat, yang kemarin memanjang, menjadi tak berujung dirasa.
Adalah kelihatannya bukan bulat, namun sepintas aku penat. Terlebih jika angin berkulit gelap, jadilah aku mengeruk hujan di bendungannya agar lekas tak adalah pekatnya penat, agar cepatlah kantung kantung itu rapi terbakar. Kantung yang busuk baunya, kantung yang hitam warnanya, kantung yang berisi kisah malam malam panjang dengan bintik, garis dan lingkaran laknat yang kian lekat. Alangkah padunya bilamana aku pulang dengan seikat doa.
Bilamana aku kembali, meninggalkan perantauan yang membuatku merangsek ke setiap kelip pelangi. Alangkah syahdunya, bilamana kini aku telah menjadi patung yang sejatinya sejak awal ku pahat cantik. Maka kini biarlah aku besar dan menjadi patung itu.

Mei 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar