Jumat, 03 April 2015

Elegi Bayang Semu

Pernahkah kau perhatikan rintik hujan yang menyulam malam?
Dua diantaranya berseteru.
Entah merebutkan apa.
Mungkinkah mesranya cahaya di temaram bulan?
Atau bayang bayang matahari di horizon barat?


Yang kutahu, keduanya semu.
Atau bahkan mungkin mereka tidak memperebutkan satu alasan pun untuk menjadi bulan dan matahari.
Hanya dua warna yang saling menjalin.
Dua bahasa yang saling menegur dalam diam dan bersimpul simpul senyum.


Ia tak sanggup berpura pura tak peduli.
Ia merangkak, berjalan, lalu berlari mengejar satu yang lainnya ke bulan.
Lalu terhenti, melihat lekat lekat jejak yang ditinggalkan,
dan tersadar bahwa tak ada celah tersisa untuk menjadi sebuah bayang bayang.


Coba kau perhatikan lagi kawan.
Satu rintik hujan itu entah mengejar apa.
Sejenak ia memandang ke atas.
Ada satu rintik hujan yang membiaskan cerita dari sandaran bulan.


Ah, sebelum ia lelah,
coba kau ingatkan,
baiknya ia memandang ke depan,
mencari jalan pulang,
terlebih jika cahaya bulan terlalu menyilaukannya.
Matahari tak akan bisa menjelma bulan.


Dan sebelum jalan terlalu sempit dan panjang, baiknya kau ingatkan padanya.
Mungkin perseteruan ini tidak benar benar ada.
Karena matahari dan bulan akan tetap sama.


Yogyakarta, April 2015

Kamis, 02 April 2015

Sebuah Kisah Kehilangan

Kita adalah batu yang berjarak.
Di antara dua nadinya ada hati yang tersesat.
Berharap dalam padam dan duka,

kita akan saling menemukan.
Di antara batas batas waktu, kita menari dalam gelap.

Mataku tersesat mencari bayanganmu,
bibirmu tercekat menghirup nafasku.

Namun kita adalah batu yang pura pura lunak.
Dalam lebur tawamu, aku mendengar kepergian.

Begitu pula kau,
menyanyikan kehilangan di setiap lirih senandungku.

Ya, kita adalah batu yang sama sama mencari.

Walau pada akhirnya, kita akan sama sama pergi.


Yogyakarta, April 2015

Selasa, 17 Maret 2015

Rahasiamu, Rahasiaku, Di Balik Dinding Batu

Aku baru saja meracau tak tahu malu pada dinding kamarku,
hingga kulitnya lembab, hingga mataku sembab.
Ada nada yang berbisik sepi dalam luka yang berapi api,
selintas gumam yang serak berderak mengairi mataku, meledak ledak.

Kerasnya tak akan melembut,
dinginnya tak akan menghangat,
juga putihnya yang tak akan menghitam.
Begitulah kuyakinkan bibirku yang tak tahu malu untuk terus melelahkan segala kelu.

Aku percaya pada kerut dan garis garis tipisnya,
pada kosong yang merefleksikan nama dan wajah apapun yang kusuka.
Betapa hadirnya menarikku dalam, merematku hingga tenggelam,
betapa...

Hingga kusadari mataku sembab.
Ada yang terasa begitu tulus dibaluk dingin dan keras wajahnya.
Jauh lebih hangat dari senyum senyum meringis dibalik topeng pemanis segala rahasiamu.

Yogyakarta, Maret 2014

Selasa, 06 Januari 2015

Kau Mengingatkanku

Ku temukan kebahagiaan di wajahku pada bola matamu. Ketika habis cahaya, dan rembulan menjelma bayang bayang, kau mengingatkanku pada waktu yang bisa habis kapan saja. Aku tak percaya.

Apa benar waktu bisa memutuskan segalanya? Padahal manusia sendirilah yang menentukan hidupnya. Lalu kau mengingatkanku bahwa kita tidak memiliki satu sama lain. Tuhan-lah yang memiliki kita. Aku terdiam, ketakutan.

Kurasa itu salah, ketika aku mencoba mencari jemarimu untuk berpegangan. Karena kau mengingatkanku akan sepi yang menyelinap disela selanya. Dan mataku terpejam gemetar.

Aku tak akan pernah siap menyambut sepi. Tidak juga kau. Namun kau mengingatkanku untuk terus hidup bersama diriku. Karena waktu yang Tuhan ciptakan, bukan untuk ditakutkan. Maka, tidurlah. Peluklah seribu aku dalam mimpimu, dan temui lagi aku di ujung waktu.

Yogyakarta, Januari 2015
Mengenang musim semi awal tahun lalu...

Ku Biarkan Kau Berlayar

Ku biarkan kau berlayar
dari kata yang terombang ambing malam
menyelami ribuan ombak dan batu karang
melucuti sisa harapan sore kemarin

Tak peduli kemana arah
ku lelahkan kau mengarung
lewati batas zaman dan usia
sampai Tuhan izinkan kita kembali

untuk berlabuh di dermaga yang kau sebut Surga.

Yogyakarta, Januari 2015