Kita adalah batu yang berjarak.
Di antara dua nadinya ada hati yang tersesat.
Berharap dalam padam dan duka,
kita akan saling menemukan.
Di antara batas batas waktu, kita menari dalam gelap.
Mataku tersesat mencari bayanganmu,
bibirmu tercekat menghirup nafasku.
Namun kita adalah batu yang pura pura lunak.
Dalam lebur tawamu, aku mendengar kepergian.
Begitu pula kau,
menyanyikan kehilangan di setiap lirih senandungku.
Ya, kita adalah batu yang sama sama mencari.
Walau pada akhirnya, kita akan sama sama pergi.
Yogyakarta, April 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar