Selasa, 17 Maret 2015

Rahasiamu, Rahasiaku, Di Balik Dinding Batu

Aku baru saja meracau tak tahu malu pada dinding kamarku,
hingga kulitnya lembab, hingga mataku sembab.
Ada nada yang berbisik sepi dalam luka yang berapi api,
selintas gumam yang serak berderak mengairi mataku, meledak ledak.

Kerasnya tak akan melembut,
dinginnya tak akan menghangat,
juga putihnya yang tak akan menghitam.
Begitulah kuyakinkan bibirku yang tak tahu malu untuk terus melelahkan segala kelu.

Aku percaya pada kerut dan garis garis tipisnya,
pada kosong yang merefleksikan nama dan wajah apapun yang kusuka.
Betapa hadirnya menarikku dalam, merematku hingga tenggelam,
betapa...

Hingga kusadari mataku sembab.
Ada yang terasa begitu tulus dibaluk dingin dan keras wajahnya.
Jauh lebih hangat dari senyum senyum meringis dibalik topeng pemanis segala rahasiamu.

Yogyakarta, Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar