Kamis, 25 November 2010

Aku dan Seluruh Iba



Oleh: Kemala Pratiwi


Pada malam ketika terasa sempit
pada hujan kala ia mencaci mentari
dan pada Tuhan yang tahu seberapa masamnya
ku terangkan se iba-ibanya aku


Seutuhnya peduli-Mu, ku yakin
akan aku yang ingin congkak
pada mereka yang menyisip hening
sekerdil ucapan mereka yang merambah bahaya


Sepenuhnya harap ku di atas noda
walau masih mengerling pada senja
sekeras kerasnya jejak ku lekatkan
adakah daya ku tetapkan?


Tuhan, tahukah?
aku iri pada mereka
yang menjamah kitab-Mu dengan tenang lembutnya
menegak titah-Mu dengan lembur tiap malam


Tuhan, sudikah?
lemahkan luka dalam hati ini
tetapkan din-Mu dalam dalam
Subhanallah, aku rindu


Dan seakan tak ada sesal
maka, lebih lagi ku iri
pada kantuk yang menyesak
usai lembur merengkuh rahmat-Mu


Sekasar kasarnya jalan, itu jalanku
lebih berderit lagi ku tempuh
maka, tutuplah telingaku Tuhan
akan tipu, sebongkah noda dan seleruh laku ku


Ku terangkan se iba ibanya aku
aku ingin segera memulai


November, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar