Senin, 07 Februari 2011

Masih Ada Jalan Pulang

Oleh: Kemala Pratiwi

Pernah suatu hari ku ingat. Saat kaki merobek jalan kembali. Dan memutar, berlaga untuk pergi. Ku saksikan, kerlinganmu membuat tawaku berat. Membuatku, rasanya, ingin sekali mencorat coret wajahku. Atau menebar semua lembaran putih, hijau, hitam dan merah di kornea mata mu. Atau hanya mencabik cabiknya, kemudian melumatkannya dengan air mataku, menjadikannya secarik perkamen baru? Ada lagi saat kau menarik tudungku dan menginjak hidung, telinga dan dahi ku, kotorlah jadinya.

Namun betapa pun busuknya bau kakimu, kawan, aku dan lemahku bergetar pilu saat itu. Entah kau dan air matamu telah membeku, ataukah kau tak mampu mengingat mimpi yang ku sandarkan dalam doa di bahumu? Kawan, walau ku tak tahu berapa banyak lagi warna yang akan tumpah, namun tak sedikitpun resah ini menyapu rambut rambut di kaki kita., tak akan. Dan tak seujung keringat pun ku biarkan kau menangis, menyimpan karat karena ku. Maka serekah santun ku haturkan, berbagai kata untuk memutihkan merah, hitam dan hijau di jalan kita, untuk kembali pulang.

Januari, 2011.
Memoar diri di sepi sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar