Kurasakan kedamaian yang bersembunyi di balik aroma tubuhmu,
menari nari di antara tengkuk juga ujung pundakmu,
mendekap jarak diantara jemari yang karam dan tak dapat bergerak.
Mereka benci menduga duga.
Seperti waktu yang tengah menghinakan sebuah nama,
menyimpan rahasia yang terlalu konyol untuk dibuka
namun terlalu lapuk untuk sekedar dijadikan retorika.
Maka, duhai tuan,
penguasa riuh redam malamku, juga getir pahit tawaku,
biarkanlah mereka bersahabat dengan waktu
sampai kedamaian itu kembali berlabuh di matamu.
Yogyakarta, Juli 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar