Aku enggan mengenali bahasa lain,
selain warna yang kau ciptakan dalam pelangimu.
Tak sulit bagiku membayangkan manisnya abu abu di antara nila dan ungu.
Definisi keindahan lain dalam mimpi tengah malamku.
Imanjinasi baru, melengkapi ratusan rayu yang usang dan kaku.
Ya, berangkat dari sebuah imajinasi,
aku mencoba menerjemahkan bait demi bait simpul senyummu,
juga sayup bisikan matamu yang menenggelamkan hadirku.
Dan semua terasa salah ketika waktu mulai berjalan lambat (lagi).
Ketika detak jarum jam di tangan kirimu serasa berteriak
di antara kalimat dan pertanyaan yang melayang dibenak kita,
kemudian padam bersama hela napas bercampur langkah setengah sadarku.
Tolong bangunkan aku dari fatamorgana abu abumu,
yang terlanjur menjelma menjadi realita dalam secangkir teh hangat di setiap pagiku.
Atau jika (dan hanya jika) mungkin, tarik aku ke dalam dunia dengan pelangi abu abumu.
Ajari aku cara menikmati keindahannya,
bukan dengan imajinasiku,
tapi dengan membawanya ke dalam realita kita.
Yogyakarta, Juli 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar