Ku hirup dalam dalam namamu yang tenggelam dalam senja keempat
Aromanya terlalu pekat
Sedang imaji menggerogoti kaki-tanganku sendiri hingga berkarat
Salahku membiarkan malam mengulang ulang fragmen sisa mimpi kemarin malam
Pantas saja, di senja ketiga, waktu mulai melesat mundur
Sedang kita terjebak dalam detikdetik yang diperlambat, tatapan dan ucapan yang tersendat
Lalu kau acuhkan bisik angin yang memprotes gemetar senandungku
Sedang, kubiarkan abu abu menjelma sudut matamu
Hingga tanpa sadar senja kedua kita lama membatu
Aku tak percaya dongeng dan cerita cinta
Kecuali jika,
Kau lukis ulang senja terakhir kita
Yogyakarta, Juni 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar