Pelankan suaramu,
karena dunia kita sedang beradu
di ujung persimpangan, dalam kering tawamu,
kita terpejam, mencoba mendengar bisikan angin utara,
menyesakkan memori berbalut pasir.
Kau dengar?
Kicau burung makin sayu,
tenggelam dalam mimpi dan ilusi hari ini.
Lalu kita terdiam.
Kau tak sanggup mengurai genggaman pasir itu.
Ia mengalir, menelusup ke telinga, terhirup di dada,
terpaut lima mili dari persimpangan ini,
tempat kita berdiri, bertatap, merajuk pada waktu yang berlari,
waktu dalam pasir dan kaca yang kau bangun sendiri.
Kau tahu, kau hanya pura pura lupa,
bahwa ilusi melesat lebih cepat dari mimpi,
mempesona, membayangi jalan dengan pasir hisap yang berbisik.
Bias melodi kesayanganmu dan aroma pengantar tidurmu,
megelabuhi arah persimpangan ini.
Lalu kita berteriak, mengiba, memelas.
Pada siapa?
Gemuruh angin utara?
Atau pasir yang berlari dalam kaca?
Yogyakarta, April 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar